Text
Saiban
"Dalam Saiban, Oka begitu piawai menyingkap peran kunci perempuan dalam konteks paradigma budaya Bali yang dijalin dengan imaji-imaji indah, kuat, tajam, dan berani, serta didukung oleh diksi yang indah, kadang tak terduga, dan kerap meletupkan nuansa magis. Benang merahnya adalah (tubuh) perempuan-ritus-kehidupan sesuai judul buku ini, Saiban, yang bisa diartikan ritual sesaji dalam budaya Bali. Bentuk Saiban ini serupa kakawin dalam khazanah sastra lama walau polanya lebih longgar. Jika umumnya kakawin tersusun dari sajak empat seuntai dengan metrum ketat, Oka menyusun ke-29 puisi dalam Saiban sebagai semacam terzina yang terdiri dari bait-bait tiga seuntai. Sebagai sebuah karya sastra, Saiban indah dinikmati dan berharga direnungi. Saiban mengukuhkan jejak Oka sebagai penyair kita yang karya-karyanya layak dikenal oleh para pembaca yang lebih luas, termasuk melalui karya terjemahan. (—Anton Kurnia, cerpenis dan esais)
***
Bagi umat Hindu di Bali, tradisi mebanten atau memberikan sesaji merupakan aktivitas orang Bali hampir setiap harinya. Setiap selesai memasak, orang Bali yang beragama Hindu pasti mempersembahkan sebagian hasil masakannya kepada Tuhan. Persembahan ini dikenal sebagai banten saiban atau jotan.
Bagi Oka Rusmini, banten saiban pada hakikatnya bukan sesaji dalam bentuk materi, melainkan sesaji dalam arti rasa syukur yang harus dimiliki oleh setiap orang karena hari ini telah tersedia sepiring nasi untuk melanjutkan hidup.
Ditulis pada kurun 2008-2014, buku puisi Saiban berbicara banyak hal tentang cinta. Tentang hidup yang berdenyut. Hidup yang menawarkan banyak hal.
Buku ini adalah semacam upacara tersendiri bagi Oka Rusmini. Suatu ungkapan rasa syukur yang tidak ada habisnya yang ia haturkan kepada Kosmis.
Tidak tersedia versi lain